Potensi Pengembangan Infrastruktur Hijau Berdasarkan Dinamika Urban Heat Island (UHI) di Kota Bandar Lampung

Authors

  • Muhammad Farrel Syuhada Prodi MPWK Fakultas Pascasarjana, Universitas Lampung, Indonesia
  • Citra Persada Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik, Universitas Lampung, Indonesia
  • Fajriyanto Jurusan Teknik Geodesi dan Geomatika Fakultas Teknik, Universitas Lampung, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.38035/jim.v5i1.1956

Keywords:

Urban Heat Island, Celullar Automata-Markov, Infrastruktur Hijau, Penginderaan Jauh, Analisis Spasial

Abstract

Urbanisasi pesat di Kota Bandar Lampung memicu konversi lahan hijau masif hingga 2.344,05 ha dalam satu dekade terakhir sehingga kebutuhan ruang permukiman dan infrastruktur meningkat serta memperkuat fenomena Urban Heat Island yang berdampak pada kenyamanan termal, kesehatan masyarakat, dan kualitas lingkungan kota, sehingga diperlukan analisis mengenai jangkauan dan efektivitas infrastruktur hijau sebagai strategi mitigasi utama untuk mereduksi pemanasan wilayah perkotaan serta merumuskan tujuan penelitian yaitu menganalisis dinamika suhu permukaan, vegetasi, lahan terbangun, korelasi faktor pendorong UHI, dan pemodelan reduksi UHI. Penelitian ini menggunakan analisis spasial berbasis penginderaan jauh dan sistem informasi geografis dengan data time series UHI tahun 1990-2025 yang diidentifikasi melalui indeks UTFVI, turunan dari perhitungan Land Surface Temperature (LST) yang diklasifikasikan kemudian dilakukan pemodelan tahun 2041 memakai algoritma Cellular Automata-Markov Chain sedangkan pemodelan reduksi dilakukan dengan overlay data infrastruktur hijau dan peta UHI, serta regresi linier berganda untuk menguji hubungan faktor pendorong secara kuantitatif. Tren tahun 1990-2025 menunjukkan kenaikan LST, penurunan indeks NDVI, peningkatan indeks NDBI, dan perluasan area terdampak UHI seluas 2.676,87 ha. Model regresi sangat kuat dengan Adjusted R-Squared 82,47% dipengaruhi NDVI, NDBI, jarak dari Pusat Kegiatan Perkotaan, jarak dari jalan, kelerengan dan elevasi. Infrastruktur hijau total seluas 4.560,08 (78% hub dan 22% link) yang didominasi kawasan imbuhan air tanah 2.847,41 ha. Efek PCD 120 meter hanya mencakup 9.839,629 ha sedangkan kawasan terdampak UHI 2025 tahun 2041 seluas 11.886,332 ha. Pemodelan potensi reduksi maksimum UHI di tahun 2041 adalah sebesar 4.952,135 ha. Perlu ada revisi rencana tata ruang Kota Bandar Lampung untuk kawasan konservasi dan arahan pemanfaatan bangunan hijau.

References

Aprenaldi, M. A. (2024). Pengaruh kependudukan dan harga lahan terhadap perubahan tutupan lahan di wilayah peri-urban Kecamatan Kemiling Kota Bandar Lampung tahun 2013 & 2023. Institut Teknologi Sumatera.

Aditya, Y., Septiarani, B., & Pradana, B. (2021). Pemanfaatan citra satelit Landsat multitemporal untuk analisis persebaran urban heat island (UHI): Studi kasus Kota Tegal. Seminar Nasional Geomatika 2021, 711–720.

Andani, N. D., & Sasmito, B. (2018). Kenyamanan termal (Temperature Humidity Index) di Kota Semarang. Jurnal Geodesi Undip, 7(3).

Aprenaldi, M. A. (2024). Pengaruh kependudukan dan harga lahan terhadap perubahan tutupan lahan di wilayah peri-urban Kecamatan Kemiling Kota Bandar Lampung tahun 2013 & 2023. Institut Teknologi Sumatera.

Azhari, D. (2019). Kajian pengembangan infrastruktur hijau dengan metode sistem dinamik untuk Kota Bandar Lampung yang berkelanjutan. Institut Teknologi Sumatera.

Campbell, J. B., & Wynne, R. H. (2011). Introduction to remote sensing (5th ed.). The Guilford Press.

Ermawati, M., Syahputra, A., & Mutmainah, T. (2022). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi urban heat island di Kota Bandar Lampung. Reka Ulang, 5(1), 54–66.

Estoque, R. C., Murayama, Y., & Myint, S. W. (2017). Effects of landscape composition and pattern on land surface temperature: An urban heat island study in the megacities of Southeast Asia. Science of the Total Environment, 577, 349–359.

Febria, C. (2021). Faktor-faktor lingkungan fisik rumah yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Kedaton Kota Bandar Lampung tahun 2020. Politeknik Kesehatan Tanjung Karang.

Guha, S., Govil, H., Dey, A., & Gill, N. (2018). Analytical study of land surface temperature with NDVI and NDBI using Landsat 8 OLI and TIRS data in Florence and Naples City, Italy. European Journal of Remote Sensing, 51(1), 667–678.

Hadibasyir, H. Z., Fikriyah, V. N., & Taufiqurrahman, M. I. (2020). Microscale urban ecological condition mapping using Landsat 8 imagery in Semarang City. La Geografia, 18(3), 209–220.

Hakim, L. N. (2024). Analisis fenomena urban heat island (UHI) di Kota Bandar Lampung periode 2017–2022 dengan menggunakan Google Earth Engine. Institut Teknologi Sumatera.

Hidayat, O., Pontoh, N. K., & Prasetya, D. B. (2018). Perkembangan urban sprawl ditinjau dari aspek fisik pada wilayah peri urban Kota Bandar Lampung (Studi kasus: Kecamatan Tanjung Senang, Kota Bandar Lampung dan Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan). Institut Teknologi Sumatera.

Howard, L. (1833). The climate of London. W. Phillips.

Kurniati, D., & Jailani, M. S. (2023). Kajian literatur: Referensi kunci, state of art, keterbaruan penelitian (novelty). Jurnal QOSIM Jurnal Pendidikan Sosial & Humaniora, 1(1), 1–6.

Lature, A. K. N. (2019). Identifikasi pola spasial perkembangan fisik melalui pertumbuhan kawasan perumahan di Kecamatan Sukarame Kota Bandar Lampung. Institut Teknologi Sumatera.

Lillesand, T. M., & Kiefer, W. R. (1994). Remote sensing and image interpretation (3rd ed.). Wiley.

Linda, M., Sari, N., Fikri, A., Murwanto, B., & Yushananta, P. (2022). Analisis faktor lingkungan fisik dan kejadian tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Kedaton Kota Bandar Lampung. Jurnal Kesehatan Lingkungan Ruwa Jurai, 16(3), 152–158.

Mukhtar, D. S. (2023). Potensi pengembangan infrastruktur hijau sebagai upaya mitigasi fenomena surface urban heat island di Kota Cilegon. Institut Teknologi Bandung.

Mutiibwa, D., Strachan, S., & Albright, T. (2015). Land surface temperature and surface air temperature in complex terrain. IEEE Journal of Selected Topics in Applied Earth Observations and Remote Sensing, 8(10), 4762–4774.

Pemerintah Kota Bandar Lampung. (2024). Kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) RPJPD Kota Bandar Lampung 2025–2045.

Pratama, H. F., Aprillia, T., Febrian, Y., & Rafi, A. (2024). Analisis spasio-temporal pengaruh pertumbuhan penduduk terhadap luas area vegetasi dan area terbangun pada tahun 2013 dan 2023 (Studi kasus: Kota Bandarlampung). Nusantara Journal of Multidisciplinary Science, 1(10), 736–742.

Ranagalage, M., Estoque, R. C., & Murayama, Y. (2017). An urban heat island study of the Colombo metropolitan area, Sri Lanka, based on Landsat data (1997–2017). ISPRS International Journal of Geo-Information, 6(7).

Rifa’ih. (2024). Green infrastructure dan green economy membangun masa depan berkelanjutan di Indonesia. https://www.setneg.go.id/baca/index/green_infrastructure_dan_green_economy_membangun_masa_depan_berkelanjutan_di_indonesia

Saroni. (2010). Isolating the urban heat island contribution in a complex terrain and its application for an arid city. Journal of Applied Meteorology and Climatology, 49, 2159–2166.

Wibisono, P., Miladan, N., & Utomo, R. P. (2023). Hubungan perubahan kerapatan vegetasi dan bangunan terhadap suhu permukaan lahan: Studi kasus di aglomerasi perkotaan Surakarta. Desa-Kota, 5(1), 148.

Sari, F. E. K. (2022). Redesain “Teras Malioboro 2” dengan pendekatan green building untuk mengurangi fenomena urban heat island di Malioboro Yogyakarta.

Downloads

Published

2026-05-28

How to Cite

Syuhada, M. F., Persada, C., & Fajriyanto. (2026). Potensi Pengembangan Infrastruktur Hijau Berdasarkan Dinamika Urban Heat Island (UHI) di Kota Bandar Lampung. Jurnal Ilmu Multidisiplin, 5(1), 948–967. https://doi.org/10.38035/jim.v5i1.1956