Pelecehan Seksual dalam Perkawinan Sebagai Tindak Pidana: Kajian Hukum dan Implementasinya

Authors

  • M.ismail Marzuki Universitas Narotama, Indonesia
  • Moh Saleh Universitas Narotama, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.38035/jim.v5i2.2243

Keywords:

Tindak Pidana, Pelecehan Seksual, Perkawinan, Perlindungan Hukum, Implementasi

Abstract

Pelecehan seksual dalam perkawinan sebagai tindak pidana merupakan isu penting dalam perkembangan hukum pidana modern, khususnya dalam upaya melindungi martabat, integritas tubuh, dan otonomi individu dalam lingkup rumah tangga. Selama ini, hubungan perkawinan sering dipahami sebagai adanya persetujuan implisit dalam hubungan seksual, sehingga menimbulkan ambiguitas hukum terhadap tindakan yang sebenarnya dapat dikategorikan sebagai pelecehan seksual atau kekerasan seksual dalam perkawinan. Namun, perkembangan hukum di Indonesia, terutama melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual, menunjukkan komitmen negara dalam mengakui dan mengkriminalisasi segala bentuk kekerasan seksual, termasuk yang terjadi dalam hubungan perkawinan. Secara normatif, pelecehan seksual dalam perkawinan mencakup unsur tidak adanya persetujuan, adanya paksaan, penyalahgunaan kekuasaan, serta perbuatan yang merendahkan martabat dan melanggar integritas fisik seseorang. Pengakuan terhadap unsur-unsur tersebut menantang pandangan hukum dan budaya yang selama ini menempatkan relasi suami istri sebagai ranah privat yang sulit dijangkau oleh hukum pidana. Dalam praktiknya, implementasi pengaturan mengenai pelecehan seksual dalam perkawinan menghadapi berbagai kendala, seperti kesulitan pembuktian, stigma sosial, kecenderungan menyalahkan korban, serta keengganan korban untuk melapor akibat ketergantungan ekonomi maupun emosional terhadap pelaku. Dari sisi implementasi, penegakan hukum terhadap pelecehan seksual dalam perkawinan harus selaras dengan prinsip hak asasi manusia, khususnya perlindungan terhadap otonomi tubuh, persamaan di hadapan hukum, dan hak untuk bebas dari kekerasan. Model implementasi yang efektif memerlukan pendekatan yang berpusat pada korban, didukung oleh kepastian hukum, sensitivitas aparat penegak hukum, serta akses terhadap mekanisme perlindungan dan pemulihan bagi korban. Selain itu, peningkatan kesadaran masyarakat dan literasi hukum menjadi penting untuk menghapus norma-norma budaya yang membenarkan atau menormalisasi kekerasan seksual dalam perkawinan. Dengan demikian, konstruksi hukum pelecehan seksual dalam perkawinan sebagai tindak pidana perlu menekankan kejelasan batasan normatif, pengakuan terhadap persetujuan sebagai prinsip utama, serta keseimbangan antara perlindungan keutuhan keluarga dan hak individu. Hal ini penting untuk mewujudkan keadilan bagi korban, memperkuat perlindungan hukum, serta mendorong sistem peradilan pidana yang lebih adil, responsif, dan berperspektif korban di Indonesia.

References

Arief, B. N. (2008). Masalah penegakan hukum dan kebijakan hukum pidana. Jakarta: Kencana.

Arief, B. N. (2016). Bunga rampai kebijakan hukum pidana. Jakarta: Kencana. Ashworth, A. (2013). Principles of criminal law. Oxford: Oxford University Press. https://d oi.org/10.1093/he/9780199672684.001.0001

Atmasasmita, R. (2013). Teori rekonstruksi asas hukum: Membangun hukum Indonesia yang berkeadilan. Jakarta: Kencana.

Adiputra,S., Awanisa, A., & Purba, Y. H. (2022). The urgency of the law on sexual violence criminal act in combating sexual violence in Indonesia. Ius Poenale, 3(1), 25–38. https://doi.org/10.25041/ip.v3i1.2521

Afandi, D. (2018). Medicolegal study of sexual violence cases in Pekanbaru, Ind onesia. Egyptian Journal of Forensic Sciences, 8(1). https://d oi.org/10.1186/s41935-018-0067-5

Anggraeniko, L. S., Kania, D., & Saepullah, U. (2022). Marital rape sebagai suatu kekerasan d alam rumah tangga. Asy-Syari’ah, 24(1), 161–178. ht t ps://d oi.org/10.15575/as.v24i1.18453

Budiardjo, M. (2008). Dasar-dasar ilmu politik. Jakarta: Gramedia.

Connell, R. (1987). Gender and power. Stanford: Stanford University Press. https://d oi.org/10.1515/9781503618763

Donnelly, J. (2003). Universal human rights in theory and practice. Ithaca: Cornell University Press.

Darma, I. M. W., Triwulandari, I. G. A. A. M., & Bunga, D. (2022). Victim blaming. International Journal of Law Reconstruction, 6(2). https://d oi.org/10.26532/ijlr.v6i2.23887

Estrich, S. (1987). Real rape. Cambridge: Harvard University Press.

Feinberg, J. (1986). Harm to self. New York: Oxford University Press.

Fernanda, N., dkk. (2025). Perlindungan korban dalam tindak pidana kekerasan seksual. Al-Zayn, 3(2), 1041–1050. https://doi.org/10.61104/alz.v3i2.1268

Feronica, Putri, A. S., & Honggare, E. H. (2022). Legal consequences in handling child sexual abuse victims. International Journal of Research in Business and Social Science, 11(1), 263–272. https://doi.org/10.20525/ijrbs.v11i1.1598

Hadjon, P. M. (1987). Perlindungan hukum bagi rakyat Indonesia. Surabaya: Bina Ilmu.

Hamzah, A. (2014). Asas-asas hukum pidana. Jakarta: Rineka Cipta.

Hart, H. L. A. (1968). Punishment and responsibility. Oxford: Oxford University Press.

Ibrahim, J. (2006). Teori dan metodologi penelitian hukum normatif. Malang: Bayumedia.

MacKinnon, C. A. (1979). Sexual harassment of working women: A case of sex discrimination. Yale University Press. https://doi.org/10.2307/j.ctt1xp3w2h

MacKinnon, C. A. (1989). Toward a feminist theory of the state. Cambridge: Harvard University Press.

Marzuki, P. M. (2016). Penelitian hukum. Jakarta: Kencana. 57

Moeljatno. (2008). Asas-asas hukum pidana. Jakarta: Rineka Cipta.

Rahardjo, S. (2000). Ilmu hukum. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Rahard jo, S. (2009). Hukum progresif: Sebuah sintesa hukum Indonesia. Yogyakarta: Genta Publishing.

Saleh, R. (1983). Perbuatan pidana dan pertanggungjawaban pidana. Jakarta: Aksara Baru.

Sheehy, E. A. (2014). Defending battered women on trial. Vancouver: UBC Press.

Shidarta. (2000). Refleksi tentang struktur ilmu hukum. Bandung: Mandar Maju.

Shidarta. (2013). Hukum penalaran dan penalaran hukum. Jakarta: Genta Publishing.

Smith, R. K. M., dkk. (2008). Hukum hak asasi manusia. Yogyakarta: PUSHAM UII.

Soekanto, S. (2008). Faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan hukum. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Soekanto, S. (2014). Pengantar penelitian hukum. Jakarta: UI Press.

Sudarto. (1990). Hukum pidana I. Semarang: Yayasan Sudarto.

Walby, S. (1990). Theorizing patriarchy. https://doi.org/10.1002/9780470756119

Wertheimer, A. (2003). Consent to sexual relations. Cambridge: Cambridge University Press.

Westen, P. (2004). The logic of consent. Burlington: Ashgate.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual. UN Women. (2012). Handbook for legislation on violence against women. https://d oi.org/10.18356/3c5d 4a2e-en

Goldscheid, J. (2015). Considering the role of the state. AJIL Unbound, 109, 202– 206. https://doi.org/10.1017/s2398772300001446

Hafidzi, A., & Septiani, R. (2020). Legal protection of women forced to married. Madania, 10(1). https://doi.org/10.24014/jiik.v10i1.10547

Karimullah, S. S. (2023). Harmonization of Islamic law and human rights. Matan Journal, 5(2). https://doi.org/10.20884/1.matan.2023.5.2.9125

Mahfud, M., & Rizanizarli, R. (2021). Domestic violence against women in I nd onesia. Fiat Justisia, 15(4), 385–398. ht t ps://d oi.org/10.25041/f iat just isia.v15no4.2276

Natalie, V. P., & Darma, I. M. W. (2023). Visum et repertum as evidence. JUSTISI, 9(3), 303–325. https://doi.org/10.33506/jurnaljustisi.v9i3.2427

Nova, E., & Elda, E. (2022). Implikasi yuridis UU TPKS. UNES Law Review, 5(2), 564–579. https://doi.org/10.31933/unesrev.v5i2.361

Nurisman, E. (2022). Tantangan penegakan hukum pasca UU TPKS. Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia, 4(2), 170–196. https://d oi.org/10.14710/jphi.v4i2.170-196

Oktobrian, D., Putro, G. P., & Swastiko, A. S. A. (2023). Immoral offense eligibility. Proceeding ICMA-SURE, 2(1). ht t ps://d oi.org/10.20884/2.procicma.2023.2.1.7766

Rahmi, L. (2025). Gender, Islam, and sexuality in Indonesia. Politics, Religion & Ideology. https://doi.org/10.1080/21567689.2025.2449822

Setiawan, E. B., dkk. (2022). Criminal law system progression. Volksgeist. https://d oi.org/10.24090/volksgeist .v5i2.6690

Shapira, K., dkk. (2024). Perlindungan hukum korban kekerasan seksual. Jurnal Pahlawan, 6(2), 9–20. https://doi.org/10.31004/jp.v6i2.24363

Silmi, R., dkk. (2024). Legal protections for victims. Jurnal Dinamika Hukum, 24(1). https://doi.org/10.20884/1.jdh.2024.24.1.3884

Siburian, R. J. (2020). Marital rape sebagai tindak pidana. Jurnal Yuridis, 7(1). https://d oi.org/10.35586/jyur.v7i1.1107

Sipayung, A. S., & Sahid, M. M. (2022). Women’s agency. Al-Ahwal, 15(2), 257– 274. https://doi.org/10.14421/ahwal.2022.15206

Soepadmo, N. R. (2020). Restorative justice paradigm. EU Agrarian Law, 9(2), 14– 20. https://doi.org/10.2478/eual-2020-0008

Sumampouw, N. E. J., Otgaar, H., & de Ruiter, C. (2020). Case characteristics in prosecution. Journal of Child Sexual Abuse, 29(8), 984–1003. https://d oi.org/10.1080/10538712.2020.1801930

Tantri, L. M. K. W. (2021). Perlindungan HAM bagi korban kekerasan seksual. Media Iuris, 4(2). https://doi.org/10.20473/mi.v4i2.25066

Wanda, A. S. (2023). Perlindungan wanita dan kesetaraan gender. Al-Bahts, 1(1), 25–32. https://doi.org/10.32520/albahts.v1i1.3010

Windani, S., Ayu, R., & Meiliawati, I. (2024). Penegakan hukum KDRT. Lex Lectio Law Journal, 2(2), 103–115. https://doi.org/10.61715/jlexlectio.v2i2.75

World Health Organization. (2021). Violence against women prevalence estimates. https://d oi.org/10.4060/cb1599en

Downloads

Published

2026-07-26

How to Cite

Marzuki, M., & Moh Saleh. (2026). Pelecehan Seksual dalam Perkawinan Sebagai Tindak Pidana: Kajian Hukum dan Implementasinya. Jurnal Ilmu Multidisiplin, 5(2), 1503–1512. https://doi.org/10.38035/jim.v5i2.2243